Anggap saja saat itu sedang melakukan perjalanan spiritual, walau sebenarnya nggak gitu-gitu amat! Karena sebenarnya Kak Mumu sedang jadi buronan. Iya, buronan!
Eits, jangan buruk sangka dulu! Beliau bukan buronan polisi karena tindak kriminal, tapi buronan para penagih hutang. Dan kedatangannya ke rumah, ya dalam rangka “ngumpet”, plus berusaha sedikit menenangkan diri untuk cari solusi.
Selama “meditasi” itu kami sharing banyak hal, terutama yang berkaitan dengan hal-hal yang berbau spiritual, dan hal itu biasa saat saya ke Bogor, atau beliau ke sini. Di sela-sela itu beliau mengajarkan beberapa dzikir tertentu, tapi tak menjelaskan tentang kegunaan dan manfaatnya.
“Baca aja setelah sholat fardhu. Tidak mengandung syirik dan bid’ah, kan?” jelasnya khawatir kalau saya akan mendebatnya. Dan sejauh apa yang saya pahami, dzikiran itu biasa saja, jadi...sementara ini, it’s oke!
Beberapa hari setelah mencari solusi, beliau menemukan cara, yaitu: cari pinjaman! (hehehe....itu sih nggak aneh, ya?) ke beberapa teman, dan dimulailah apa yang tadi saya sebut sebagai “perjalanan spiritual”. Pertama kami ke Tangerang, ke seseorang yang katanya sudah seperti saudara. Hasilnya nihil. Alasannya saya tidak diberitahu, tapi...nggak penting juga kali, ya? Kemudian kami ke Ciputat, ke rumah seorang kawan lama yang dengar-dengar sudah sukses. Berhubung sudah malam, maka kami pun menginap di...rumah kontrakannya yang tidak bisa dibilang besar. Kontrakan kecil? Ya, dan artinya si teman belum sukses. Tapi bukan itu yang ingin diceritakan.
Malam sebelum tidur, Kak Mumu minta saya menerawang ke suatu tempat. Meski hal itu terasa aneh, sebab saya agak sulit memilah pengertian antara menerawang, menghayal sambil berimajinasi, menduga-duga, dan ...”dibawa piknik” (tentang ini suatu saat InsyaAlloh, akan saya ceritakan). Tapi akhirnya saya lakukan juga sesuai dengan petunjuk beliau.
Awalnya gelap saja, tapi perlahan kabut hitam itu memudar. Ada cahaya seperti kehitaman dan ungu. Kemudian seperti menonton film di bioskop, saya melihat suatu pemandangan alam bebas, entah di mana. Kemudian ada padang ilalang yang tidak terlalu lebat, bahkan sebagian seperti meranggas. Kemudian terlihat dua buah makam berkeramik. Satu berukuran besar, dan satu lagi lebih kecil. Gambar-gambar itu terlihat dari beberapa sisi secara tiga dimensi. Hanya itu, dan Kak Mumu senyum kegirangan dengan mengatakan bahwa semua yang saya lihat, benar adanya.
“Saya pernah ke sana, dan memang begitu!” katanya dengan bola mata melebar antusias. Sejujurnya, saya tak terbawa arus euforia Kak Mumu. Malah bingung, karena usai sesi tadi menyisakan banyak pertanyaan.
Dugaan benar. Pinjaman gagal. Lalu kami menjalani opsi terakhir: cari “air adem”, dan tujuannya ada di Gunung Gede. Sebuah rumah kecil di salah satu bukitnya yang jauh dari tetangga. Pemandangan dari tempat itu indah luar biasa, meski pun di sore hari, dan mesti dibayar dengan kaki yang pegal-pegal karena harus menyusuri jalan mendaki sejak turun dari angkot. Dan menurut saya, ada dua hal menarik di tempat itu, yang pertama, si kakek yang ditemui wajahnya seperti cepot dengan dua gigi depan yang besar; yang kedua, katanya ada harimau di sekitar tempat ini, dan...akan muncul bila ada pendatang. Namun hingga adzan subuh yang terdengar sayup-sayup dari kejauhan, mitos harimau itu tak terbukti. Dan yang nyata adalah, mata yang terkantuk-kantuk semalaman begadang. Bukan cuma ingin membuktikan cerita, tapi juga karena sergapan dingin yang menggigit begitu ganas.
***
Setelah sesiangan beristirahat di rumah saudara, maka sekitar pukul 9 malam kami berangkat ke rumah Kak Mumu di Ciawi. Sekian lama mengenalnya, belum pernah sekali pun ke tempat itu, karena kami biasa bertemu di rumah seorang paman di daerah Jembatan Merah. Kak Mumu seakan-akan mengulur waktu dengan berhenti di beberapa tempat untuk sekedar mencari informasi lewat teman-temannya..
“Gimana? Aman?” tanya saya.
“Alhamdulillah. InsyaAlloh, mudah-mudahan aman....”
Saya tersenyum. Kak Mumu coba menguatkan hati dan pikiran, serta sekaligus membuat sugesti positif seperti yang diharapkannya. Meskipun dia kurang begitu pandai menyembunyikan sedikit nuansa kegelisahan.
Setelah menerobos kebun singkong, dan beberapa kebun lain yang tidak begitu jelas, dengan tekstur tanah yang bergerinjul, lembah-lembah dan bukit-bukit mini, serta aliran air, yang entah dari gunung, atau limbah rumah tangga, akhirnya kami tiba di sebuah rumah kecil tapi sepertinya memanjang. Kenapa” sepertinya”? Ya, sebab kami datang lewat pintu belakang. Kak Mumu mengetuk perlahan dan memanggil dengan suara berbisik. Tak lama pintu terbuka. Seraut wajah bulat dengan rambut agak kusut dan mata terkantuk, menyilakan mereka masuk. Kak Mumu memperkenalkan istrinya. Rumah ini terlihat sepi, sehingga saya kira mereka cuma berdua. Tapi untuk apa punya kamar tiga?
“Lagi pada tidur semua,” jelas Kak Mumu. “Yang depan tiga, di sebelahnya dua, yang sekamar sareng indungnya aya dua,” tambahnya membuat saya terpana, entah mesti mendecah sambil geleng kepala dan istighfar; atau ucap alhamdulillah sebab ada pepatah bilang: banyak anak banyak rejeki.
Waktu menunjuk hampir jam dua dini hari. Saya sulit memejamkan mata walau badan terasa lelah. Daerah ini mestinya dingin, sebab dalam perjalanan ke sini saya menggigil kedinginan, tapi...kenapa sekarang rasanya agak panas? Apa karena jendelanya ditutupi gordein berbahan tebal?
Saya menggeliat, lalu bangun dan menuju ke belakang. Dari balik pintu-pintu terdengar suara dengkuran bervariasi. Sumur ada di luar kanan. Hawa dingin langsung menerpa saat pintu terbuka. Begitu pula saat air menyapu beberapa bagian tubuh ketika berwudhu. Entah kenapa pada waktu itu terasa seolah-olah ada beberapa pasang mata merperhatikan dari kegelapan. Saya buru-buru masuk ke dalam, sebab tak mau berhalusinasi lebih jauh. Tapi perbedaan suhu di luar dan di dalam kembali menarik perhatian, karena makin ke depan, suhu semakin panas. Entah kenapa, bersamaan dengan itu timbul firasat tak enak. Dan untuk mengubur firasat yang dikhawatirkan semakin berkembang buruk, maka usai sholat tahajjud, saya berdzikir, dan berdzikir sampai adzan subuh terdengar, rencananya. Akan tetapi entah karena faktor pusaran energi dzikir, atau hal lain, pada satu titik waktu saya “masuk” dalam keheningan yang dalam, dan tak terdengar suara apa pun. Waktu seolah berhenti, dan semua benda mematung, namun batin tetap melafazhkan dzikir...pada saat itulah, entah dengan mata dzohir, atau mata batin, saya melihat banyak kabut masuk ke dalam lewat ventilasi. Kabut itu lama kelamaan berbentuk seperti gumpalan awan tebal yang memenuhi ruangan sampai setinggi dada saya yang sedang duduk bersila. Dan entah dari mana datangnya, tanpa disadari, dua sosok kaki sangat besar berada di kanan dan kiri. Saya coba mendongak untuk melihat bagian atas tubuh mereka, tapi leher terasa kaku tak bisa digerakkan. Begitu juga dengan bola mata. Meski berusaha sekuat tenaga, hasilnya nihil. Dan yang kemudian terjadi, mereka malah coba menenteng saya dengan menarik tangan kanan dan kiri.
Pada saat itulah tubuh bergetar hebat, seolah ada yang melompat masuk ke dalam raga. Saya merasa membesar, dan sangat kuat dengan mata nyalang. Suara yang keluar seperti menggeram,”Jangan berani-beraninya kamu membawa tanpa seijin pemilik tubuh ini. Kalau bermaksud baik, duduk di depan, perlihatkan wajah, dan bicara; bila tidak, pergilah sekarang juga!”
Saat itu juga cengkeraman dilepaskan. Sosok dua kaki besar itu menghilang, dan kabut, atau mungkin asap tebal itu keluar dengan cepat dari arah mereka tadi datang. Semua itu berlangsung kurang dari semenit hingga ruangan kembali lengang. Saya seperti didorong kembali kekesadaran awal dan termangu beberapa lama, serta sempat merasakan bahwa ruangan ini juga dingin alami, sebelum disadarkan kumandang adzan subuh dari musholla terdekat.
***
Usai sarapan pagi saya menceritakannya pada Kak Mumu. Beliau cuma ketawa kecil.
‘Kok ketawa, sih?”
“Buka hordengnya sedikit, terus lihat ke kanan,” kata Kak Mumu. Saya menurutinya, dan melihat beberapa rumah dan pohon. Seperti memahami kebingungan saya, beliau menambahkan, “Pohon yang paling besar!”
“Sepertinya pohon durian...?
“Bener! Di sana bersarang sepasang genderuwo kembar, dan sering meneror penduduk kampung sini. Terutama sekali kalau ada pendatang baru,” jelas Kak Mumu. “Syukur alhamdulillah kamu nggak dibawa, sebab kalau sampai terjadi alamat nggak bakal balik lagi...”
“Maksudnya?”
“Ya, dibawa ke alamnya, dan nggak bakal dikembalikan lagi ke alam manusia. Dulu sering terjadi, tapi sejak ditaklukkan oleh seorang paranormal, maka mereka membuat perjanjian bahwa genderuwo kembar itu tidak boleh mengganggu semua penduduk di sini.....” Tiba-tiba Kak Mumu terdiam dan memandang serius kepada saya. Ada nuansa menyesal bercampur heran. “Astaghfirullohaladziim.....!” serunya sambil menepuk jidat. “Ya Alloh, Kak Mumu lupa. Mestinya nggak ngajak kamu ke sini. Kamu kan pendatang. Eh, tapi kamu nggak apa-apa, kan?!”
“Ya Alhamdulillah, ternyata Alloh masih sayang sama saya dan berkenan melindungi...”
“Haaaaah.....syukurlah....”Kak Mumu merasa lega. “Tapi hari ini juga kamu harus pulang. Maaf, bukan nggak mau diinapi, tapi khawatir membahayakan kamu...”
“Iya, saya ngerti. Makasih atas semuanya, Kak Mumu. Perjalanan ini jadi pengalaman dan menambah wawasan...”
“Sama-sama....”
Kalau Kak Mumu tidak bisa merasakan, bahkan menduga sedikit pun, saya merasa tak perlu menceritakan bagian, dimana saat genderuwo kembar itu pergi mendengar bentakan garang, yang diawali geraman seperti seekor harimau...
*****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar