Sebenarnya saya tidak terlalu gaul dengan para tetangga, disamping durasi kepulangan jarang, pun tenggat waktunya tak terlalu lama. Tapi bukan berarti sama sekali tidak ada yang dikenal. Paling tidak, Mak Sarem yang ada di seberang jalan, yang biasa duduk di bale depan rumahnya; ya saya kenal. Juga ada Mang Olim, yang tinggal persis di sebelah rumah, juga kenal. Selebihnya, sekedar kenal muka dan kalau pun berpapasan, yaaah...saling tukar senyum tanpa tahu namanya.
Lalu saat ada jeda senggang, kami pulang. Tak ada isyarat atau pertanda apapun, sehingga tiba di sana kami menjalani rutinitas seperti biasa. Puas ngobrol dengan mereka, aku lebih dulu ke kamar karena terasa lelah. Sementara istri masih saja belum puas temu kangen dengan kedua orangtuanya. Bukan tanpa alasan saya tidur cepat, karena ada yang dituju, yaitu sholat malam yang sayang ditinggalkan karena sudah pasang niat ingin dilanggengkan. Jadi kalau tidur kemalaman, padahal badan capek, yaaah..pasti kebablasan!
Alhamdulillah, sekitar pukul 02:00 dinihari, saya terjaga. Setelah wudlu, saya melangkah ke sebuah ruangan, yang biasa digunakan untuk sholat. Suasana begitu hening, senyap, dengan backsound orkestra serangga dari pesawahan yang ada di belakang rumah. Usai sholat yang terasa begitu tenang, saya lanjutkan dengan berdzikir, memuji Yang Maha Kuasa, yang memberi hidup, kesehatan, rizki, perlindungan, dan segalanya. Di tengah-tengah keinginan untuk khusuk itulah tiba-tiba saja saya mendengar suara yang tak lazim...suara seperti harimau yang menggeram!
Astaghfirulloh al adzhiem......! Ruangan seperti bergetar karena suara itu sangat besar, seolah-olah makhluk yang mengeluarkannya berada dekat sekali. Kekhusukan pun mendadak hilang. Saya mencari-cari sumber suara, tapi tak terlihat apa pun. Bahkan sampai keluar ruangan dan memeriksa keluar lewat celah-celah jendela. Senyap, sunyi, hening...tak terlihat apa-apa. Lalu...apa yang tadi kudengar? Suara itu jelas sekali. Apa Cuma saya saja yang mendengarnya...?
Pertanyaan itu terbawa hingga saya kembali merebahkan diri ke pembaringan. Meski mata terpejam, tapi pikiran terus bekerja. Fenomena yang sungguh membuat penasaran. Pagi hari iseng saya bertanya sama istri, soal, apakah dulu di tempat ini terdapat harimau. Dan karena nggak tahu, dia malah bertanya ke mamanya, dan mama Cuma tahu sedikit, lalu menyarankan saya bertanya sama Mak Sarem. Alasannya: “ Mak Sarem orang paling lama di sini. Boleh dibilang cikal-bakal kampung ini waktu masih penuh ama pohon jati,” kata mama.
Akhirnya dengan penasaran saya menemui Mak Sarem. Setelah basa-basi sebentar, Mak Sarem membenarkan dugaan saya, kalau dulu, waktu jaman Belanda, tempat ini adalah hutan jati, dan hanya ada dua rumah, yaitu rumah beliau, dan saudaranya yang berjarak kurang lebih sepuluh meter agak ke belakang.
Menurut Mak Sarem, waktu itu lepas maghrib saat pintu rumahnya diketuk. Dia curiga, sebab sang suami rencana pulang menjelang subuh. Siapa gerangan? Saat mengintip lewat gordein jendela, dilihatnya sosok wanita berkebaya berdiri mematung. Mak Sarem sesaat terpana, sebelum akhirnya membuka pintu dengan ragu-ragu setelah memastikan wanita itu hanya seorang diri.
“Maaf, numpang tanya..kalau arah ke Cikalong ke mana, ya?”
“Lho, si Eneng sendiri datang dari mana?”
Wanita berkebaya orange agak kekuningan itu menunjuk satu-satunya jalan ke tempat ini, yaitu jalan kereta yang biasa dilewati kereta pengangkut kayu jati dari arah Purwakarta menuju Karawang.
“Kalau si Neng mau ke Cikalong, balik lagi aja nyusuri sisi jalan kereta sampai ketemu jalan besar, ntar belok ke kanan. Nah, ntar kalau ketemu jalan bercabang, ambil yang sebelah kiri...” jelas Mak Sarem.
“ O, nggak! Saya pengen ditunjukin aja arahnya. Sebelah mana? Tunjukkan saja arahnya, ke sana atau ke sana.”
“Wah, nggak bisa, Neng! Ke sana arah kanan leuweung(hutan), ke sebelah kiri juga leuweung. Mending balik lagi aja nyusuri jalan kereta...”
“Tunjukkan saja arahnya!” suara wanita berkebaya itu agak meninggi.
“Ke sa-sana....” Mak Sarem menunjuk arah belakang kanannya. Dan tanpa mengucapkan terima kasih, wanita berkebaya itu lantas pergi. “Neng, itu mah leuweung, gelap...lagian bahaya.....” masih sempat menasehati, meski tak digubris.
Mak Sarem nelangsa, sedikit khawatir, sehingga untuk beberapa saat mematung di depan pintu. Tapi kemudian dia dikejutkan oleh suara auman harimau yang menggelegar memecah kesunyian malam. Dia tersentak, dan buru-buru menutup pintu dan menguncinya rapat. Matanya jelalatan meneliti setiap jendela, bahkan celah kecil di tiap dinding ruangan. Sambil merapat ke bawah tempat tidur dekat pojok lemari, wanita itu menggigil ketakutan dan tak bisa tidur hingga sang suami pulang menjelang subuh dini hari.
Dia menceritakan kejadian itu, dan meminta sang suami memeriksa, khawatir kalau wanita berkebaya itu menjadi mangsa harimau.
Saat matahari telah bersinar, dan hutan yang ditunjuk Mak Sarem semalam agak terang, sang suami coba pergi ke sana dan memeriksa. Lelaki itu pulang dengan membawa baju dan kain kebaya, yang menurut Mak Sarem, pakaian yang dikenakan wanita semalam.
“Tidak ada bercak darah, dan baju ini pun nggak banyak robeknya...” jelas sang suami.
“Apa perempuan itu ditelen bulat-bulat ya, Kang?”
“Hussss, ngaco aja kamu! Artinya bukan begitu....”
“Terus apa...?”
“Wanita yang semalam kamu temui itu bukan manusia, tapi maung. MAUNG JEJADEN, alias siluman harimau...”
“Hah..?!” Mak Sarem terperanjat kaget. Tak disangka-tak dinyana dia mengkhawatirkan nasib wanita itu, kalau-kalau semalam dimakan harimau, eh malam dia sendiri yang harimau, siluman lagi.
Dan semenjak itu Mak Sarem lebih waspada lagi kalau ditinggal pergi suaminya sewaktu bertugas. Tapi menurut beliau, wanita berkebaya itu tidak pernah muncul lagi. Dan menurut ‘orang pinter’, maung jejaden itu muncul, sekedar hendakmenunjukkan eksistensi dirinya saja pada Mak Sarem.
Yang menarik adalah, beberapa waktu setelah kembali ke Jakarta, saya sempat mendengar suara auman itu lagi di tengah malam. Dan dalam situasi yang sulit untuk dijelaskan, saya bertemu dengan wanita berkebaya orange yang pernah diceritakan oleh Mak Sarem.....
***
Lalu saat ada jeda senggang, kami pulang. Tak ada isyarat atau pertanda apapun, sehingga tiba di sana kami menjalani rutinitas seperti biasa. Puas ngobrol dengan mereka, aku lebih dulu ke kamar karena terasa lelah. Sementara istri masih saja belum puas temu kangen dengan kedua orangtuanya. Bukan tanpa alasan saya tidur cepat, karena ada yang dituju, yaitu sholat malam yang sayang ditinggalkan karena sudah pasang niat ingin dilanggengkan. Jadi kalau tidur kemalaman, padahal badan capek, yaaah..pasti kebablasan!
Alhamdulillah, sekitar pukul 02:00 dinihari, saya terjaga. Setelah wudlu, saya melangkah ke sebuah ruangan, yang biasa digunakan untuk sholat. Suasana begitu hening, senyap, dengan backsound orkestra serangga dari pesawahan yang ada di belakang rumah. Usai sholat yang terasa begitu tenang, saya lanjutkan dengan berdzikir, memuji Yang Maha Kuasa, yang memberi hidup, kesehatan, rizki, perlindungan, dan segalanya. Di tengah-tengah keinginan untuk khusuk itulah tiba-tiba saja saya mendengar suara yang tak lazim...suara seperti harimau yang menggeram!
Astaghfirulloh al adzhiem......! Ruangan seperti bergetar karena suara itu sangat besar, seolah-olah makhluk yang mengeluarkannya berada dekat sekali. Kekhusukan pun mendadak hilang. Saya mencari-cari sumber suara, tapi tak terlihat apa pun. Bahkan sampai keluar ruangan dan memeriksa keluar lewat celah-celah jendela. Senyap, sunyi, hening...tak terlihat apa-apa. Lalu...apa yang tadi kudengar? Suara itu jelas sekali. Apa Cuma saya saja yang mendengarnya...?
Pertanyaan itu terbawa hingga saya kembali merebahkan diri ke pembaringan. Meski mata terpejam, tapi pikiran terus bekerja. Fenomena yang sungguh membuat penasaran. Pagi hari iseng saya bertanya sama istri, soal, apakah dulu di tempat ini terdapat harimau. Dan karena nggak tahu, dia malah bertanya ke mamanya, dan mama Cuma tahu sedikit, lalu menyarankan saya bertanya sama Mak Sarem. Alasannya: “ Mak Sarem orang paling lama di sini. Boleh dibilang cikal-bakal kampung ini waktu masih penuh ama pohon jati,” kata mama.
Akhirnya dengan penasaran saya menemui Mak Sarem. Setelah basa-basi sebentar, Mak Sarem membenarkan dugaan saya, kalau dulu, waktu jaman Belanda, tempat ini adalah hutan jati, dan hanya ada dua rumah, yaitu rumah beliau, dan saudaranya yang berjarak kurang lebih sepuluh meter agak ke belakang.
Menurut Mak Sarem, waktu itu lepas maghrib saat pintu rumahnya diketuk. Dia curiga, sebab sang suami rencana pulang menjelang subuh. Siapa gerangan? Saat mengintip lewat gordein jendela, dilihatnya sosok wanita berkebaya berdiri mematung. Mak Sarem sesaat terpana, sebelum akhirnya membuka pintu dengan ragu-ragu setelah memastikan wanita itu hanya seorang diri.
“Maaf, numpang tanya..kalau arah ke Cikalong ke mana, ya?”
“Lho, si Eneng sendiri datang dari mana?”
Wanita berkebaya orange agak kekuningan itu menunjuk satu-satunya jalan ke tempat ini, yaitu jalan kereta yang biasa dilewati kereta pengangkut kayu jati dari arah Purwakarta menuju Karawang.
“Kalau si Neng mau ke Cikalong, balik lagi aja nyusuri sisi jalan kereta sampai ketemu jalan besar, ntar belok ke kanan. Nah, ntar kalau ketemu jalan bercabang, ambil yang sebelah kiri...” jelas Mak Sarem.
“ O, nggak! Saya pengen ditunjukin aja arahnya. Sebelah mana? Tunjukkan saja arahnya, ke sana atau ke sana.”
“Wah, nggak bisa, Neng! Ke sana arah kanan leuweung(hutan), ke sebelah kiri juga leuweung. Mending balik lagi aja nyusuri jalan kereta...”
“Tunjukkan saja arahnya!” suara wanita berkebaya itu agak meninggi.
“Ke sa-sana....” Mak Sarem menunjuk arah belakang kanannya. Dan tanpa mengucapkan terima kasih, wanita berkebaya itu lantas pergi. “Neng, itu mah leuweung, gelap...lagian bahaya.....” masih sempat menasehati, meski tak digubris.
Mak Sarem nelangsa, sedikit khawatir, sehingga untuk beberapa saat mematung di depan pintu. Tapi kemudian dia dikejutkan oleh suara auman harimau yang menggelegar memecah kesunyian malam. Dia tersentak, dan buru-buru menutup pintu dan menguncinya rapat. Matanya jelalatan meneliti setiap jendela, bahkan celah kecil di tiap dinding ruangan. Sambil merapat ke bawah tempat tidur dekat pojok lemari, wanita itu menggigil ketakutan dan tak bisa tidur hingga sang suami pulang menjelang subuh dini hari.
Dia menceritakan kejadian itu, dan meminta sang suami memeriksa, khawatir kalau wanita berkebaya itu menjadi mangsa harimau.
Saat matahari telah bersinar, dan hutan yang ditunjuk Mak Sarem semalam agak terang, sang suami coba pergi ke sana dan memeriksa. Lelaki itu pulang dengan membawa baju dan kain kebaya, yang menurut Mak Sarem, pakaian yang dikenakan wanita semalam.
“Tidak ada bercak darah, dan baju ini pun nggak banyak robeknya...” jelas sang suami.
“Apa perempuan itu ditelen bulat-bulat ya, Kang?”
“Hussss, ngaco aja kamu! Artinya bukan begitu....”
“Terus apa...?”
“Wanita yang semalam kamu temui itu bukan manusia, tapi maung. MAUNG JEJADEN, alias siluman harimau...”
“Hah..?!” Mak Sarem terperanjat kaget. Tak disangka-tak dinyana dia mengkhawatirkan nasib wanita itu, kalau-kalau semalam dimakan harimau, eh malam dia sendiri yang harimau, siluman lagi.
Dan semenjak itu Mak Sarem lebih waspada lagi kalau ditinggal pergi suaminya sewaktu bertugas. Tapi menurut beliau, wanita berkebaya itu tidak pernah muncul lagi. Dan menurut ‘orang pinter’, maung jejaden itu muncul, sekedar hendakmenunjukkan eksistensi dirinya saja pada Mak Sarem.
Yang menarik adalah, beberapa waktu setelah kembali ke Jakarta, saya sempat mendengar suara auman itu lagi di tengah malam. Dan dalam situasi yang sulit untuk dijelaskan, saya bertemu dengan wanita berkebaya orange yang pernah diceritakan oleh Mak Sarem.....
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar